seperti biasa, sabtu malam.
disibukkan dengan segala hal semu dunia. yah, semu.
kebetulan langit cerah. sangat jarang ditemui di bulan hujan saat ini.
malam yang indah.
*
ada jadwal pertemuan yang tertulis di jauh hari dengan manusia lainnya.
tapi sore tadi kakak berucap, “nanti malam antarkan aku ke kota. ada perlu sebentar”.
ku ambil handphone di meja yang sudah tua umurnya. sangat tua, kira-kira lebih tua dari umurku.
ku kirim pesan pada manusia lainnya, “nanti malam tunggu aku, aku masih mengantar kakak ke kota”.
malam yang panjang.
*
selepas maghrib ku nyalakan motor bebek warna biru hitam milik kakak.
berdua, pergi dari desa ke kota.
yah, desa. tempat tinggalku. desa yang ramai, padat. bukan seperti desa kebanyakan.
malam yang bising.
*
jalanan ramai. dipenuhi kendaraan besi yang keluar masuk pelabuhan.
akhir tahun. banyak yang berlibur, memang.
bapak-bapak polantas pun tak ketinggalan ikut meramaikan.
melintasi jalan, melewati banyak lampu lalu lintas.
malam yang ramai.
*
handphone bergetar.
di tengah jalan aku berhenti sebentar.
ada pesan masuk. ku baca sekilas, pesan yang tak penting ternyata.
*
sebelum ku nyalakan motor lagi, seorang bapak pengayuh becak yang sudah berumur menyita perhatianku.
becak yang sudah usang seusang umurnya, diam di pinggir jalan sambil menatap keramaian.
sepi. tak ada penumpang. mungkin itu yang akan becak katakan seandainya bisa berkata.
sayangnya tidak.
mimik wajah sedih dari seorang bapak yang entah sudah punya cucu berapa ini luluhkan hati.
semangatnya untuk menghidupi keluarga bagaikan gunung uhud. sangat besar.
tak peduli manusia lainnya berkata apa.
pekerjaan halal. mungkin itu yang akan beliau ucapkan.
selamat berjuang bapak pengayuh becak.
malam masih panjang.
*
ku mulai lagi perjalanan. masih setengah jalan ternyata.
masih tersimpan di hati. kejadian yang cukup dijadikan pelajaran ini.
*
kembali melintasi jalanan.
melewati banyak lampu lalu lintas.
dan entah lampu lalu lintas yang keberapa, saat lampu berwarna merah, mataku melihat sesosok ibu tuna netra yang sedang menyeberang jalan menggunakan tongkat kayunya.
seorang ibu tua. ibu siapa itu? entah ibu siapa.
berjalan pelan, sambil menggerak-gerakan tongkat kayu yang dipegangnya.
“ibuku sayang, masih terus berjalan. walau tapak kaki penuh darah, penuh nanah”.
mungkin seperti itu yang dikatakan bang iwan.
surga di telapak kaki ibu. ridho Allah menurut keridhoan ibu.
malam yang larut.
*
lampu sudah hijau. tak terasa sudah sampai tujuan.
setengah jam berlalu..
urusan kakak pun selesai.
*
kembali ke desa.
pulang membawa pelajaran berharga yang jarang-jarang manusia memperhatikan.
pergi lagi untuk menepati janji yang sudah tertulis dengan manusia lainnya.
semakin larut, jalanan semakin sunyi, sepi.
tapi malam masih panjang.
sabtu malam.
banyuwangi, 24 desember 2011